Featured Post Today
print this page
Latest Post

Penyakit Helminthiasis (Cacingan) pada Ruminansia


Gambar 1. Sapi yang Kurus Terserang Helmithiasis 
Diduga bahwa hampir semua sapi yang dipelihara secara tradisional pada kondisi petani terserang penyakit cacingan (Helmithiasis). Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh serangan parasit cacing tergantung pada : Jenis cacing, jumlah cacing yang menyerang, umur sapi yang terserang dan kondisi pakan. Parasit cacing dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan:
  1. Cacing Gilig (Nematoda)
  2. Cacing Pita (Cestoda)
  3. Cacing Hati (Trematoda)
Gejala cacingan sangat tergantung dari jenis cacing yang menyerang ternak sapi. Tetapi pada umumnya gejala cacingan dapat terlihat sebagai berikut: badan kurus, bulu kusam dan berdiri, diare atau bahkan sembelit. Untuk menyiasati harga obat yang mahal dan dampak/efek samping obat kimia yang tidak diharapkan maka perlu diupayakan obat-obatan tradisional. Obatobatan tradisional juga mempunyai efektifitas yang tidak kalah dengan obat-obatan modern.

Contohnya penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing :
  1. Buah pinang digongseng (goreng tanpa minyak) kemudian ditumbuk halus 1 sendok makan dicampur air 1 cangkir kemudian diberikan kepada ternak.
  2. Buah atau daun nenas diberikan kepada ternak sekitar 600 mg/kg BB setelah sebelumnya dibersihkan durinya.Buah atau daun nenas ini lebih efektif untuk cacing nematoda. Tetapi harus diingat pemberian daun atau buah nenas tidak boleh pada ternak yang sedang bunting.
  3. Bawang putih yang biasa digunakan untuk memasak di dapur juga mempunyai khasiat anti-cacing yang sangat efektif, terutama untuk melawan infestasi cacing Ascaris. sp, Enterobius dan semua jenis cacing paru-paru. Keuntungan lain dari bawang putih adalah adanya kandungan antibiotika alami yang sangat aman dan tidak meninggalkan residu di sapi, antibiotika ini akan berperan sebagai ”growth promotor” pada laju pertumbuhan sapi. Pada pengobatan sapi-sapi muda penggunaan bawang putih sangat disarankan karena tidak pernah ditemukan efek samping yang merugikan.


Gambar 2. Siklus Hidup Cacing Nematode

Gambar 3. Siklus Hidup Cacing Nematode

Pengendalian penyakit cacingan :
  1. Perhatikan kondisi lingkungan, daerah penggembalaan dan kandang, hindari tanah yang lembab dan basah atau banyak kubangan.
  2. Lakukan penggembalaan bergilir, jangan menggunakan padang penggembalaan secara terus menerus.
  3. Jagalah kandang tetap bersih terutama dari sisa pakan, bila ada sisa pakan segera jauhkan dari kandang atau dibuat kompos.
  4. Segera lakukan pengobatan bila ada sapi yang menunjukkan gejala cacingan



1 komentar

Pengolahan dan Manfaat Kulit Buah Markisa sebagai Bahan Pakan Kambing



          Hasil samping maupun produk limbah pertanian atau industri-agro sering menjadi alternatif yang menjanjikan dalam mendukung produksi ternak ruminansia, termasuk kambing. Pengolahan buah markisa untuk menghasilkan jus markisa sebagai produk utama, menghasilkan hasil sisa berupa kulit buah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak ruminansia. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baik sebagai komponen dalam pakan konsentrat maupun sebagai pakan dasar dalammensubstitusi rumput.

PENGOLAHAN
Pengolahan kulit buah segar menjadi bahan baku pakan dilakukan melalui tahapan proses sbb:

Proses pengeringan kulit buah markisa segar membutuhkan 2-3 hari untuk menghasilkan kulit buah kering dengan kadar air sekitar 13%


Tepung kulit buah markisa sebagai komponen konsentrat atau komponen pakan komplit


KOMPOSISI NUTRISI
Kulit buah markisa merupakan sumber energi yang potensial untuk nutrisi ternak kambing. Komposisi nutrisi lebih baik dibandingkan dengan dedak halus, sehingga dapat mensubstitusi penggunaan dedak dalam ransum.


PEMANFAATAN SEBAGAI PAKAN
Pemanfaatan kulit buah markisa sebagai bahan pakan kambing dapat dilakukan dengan cara:
1. Sebagai komponen penyusun konsentrat
2. Sebagai komponen dalam pakan komplit (complete feed)

TARAF PENGGUNAAN
Sebagai bahan dalam membuat konsentrat, kulit buah markisa dapat dimanfaatkan sebanyak 20-45% dengan taraf optimal sekitar 30%.

PBBH: Pertambahan bobot badan harian
KP : Konversi pakan (Konsumsi/PBBH)
Respon pertumbuhan ternak kambing yang diberi pakan mengunakan bahan kulit buah markisa tergolong sangat baik dengan pertambahan bobot badan harian antara 60-105 g dengan konversi pakan antara 8-14.

Sumber : Lolit Kambing Litbang


1 komentar

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PEMULIAAN DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI ITIK LOKAL



Dalam budidaya ternak itik ada 3 kategori sistem pemeliharaan yaitu (i) sistem ekstensif, dimana ternak itik digembalakan dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari sumber pakan di sawah-sawah yang selesai dipanen, (ii) sistem semi-intensif, dimana ternak itik dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan itik mulai diberi pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, dan (iii) sistem intensif, dimana ternak itik dipelihara terkurung sepanjang periode produksi telur dan kebutuhan pakan disediakan oleh peternak seluruhnya.


Hal tersebut dikemukakan oleh L. Hardi Prasetyo seorang peneliti di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor dalam acara seminar nasional dan kongres I Indonesia Society of Animal Agriculture (ISAA) di Semarang. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Aspek Zooteknis untuk Mendukung Sumberdaya dan Ternak Lokal” dengan diikuti oleh para akademisi, praktisi dan peneliti di bidang peternakan.

Hardi Prasetyo mengatakan, bahwa pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan dan menarik bagi peternak diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. “Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.,” ungkap Hardi Prasetyo.

Pengembangan bibit unggul

Hardi mencontohkan, seperti halnya pada berbagai komoditas ternak lain, itik juga sudah mengalami proses pemuliaan di beberapa negara. Bibit unggul itik petelur yang pasar utamanya di negara-negara Asia telah dihasilkan di Taiwan dan Vietnam melalui proses seleksi yang terarah. Itik petelur unggulBrown Tsaiya telah dihasilkan di Taiwan melalui proses seleksi selama 13 generasi dengan peningkatan produksi telur sampai umur 52 minggu dari 207 menjadi 229 butir dan umur pertama bertelur turun dari 126 hari menjadi hanya 108 hari tanpa mengurangi bobot telur. Seleksi terhadap sifat lain juga telah dilakukan di Taiwan untuk memperbaiki kekuatan kerabang telur, warna kerabang telur, fertilitas dan daya tetas telur.

Sedangkan di Vietnam, seleksi terhadap itik Co, yang diduga berasal dari Indonesia, dapat meningkatkan produksi telur selama 1 tahun sebesar14,5%. Untuk itik pedaging, di Taiwan telah dilakukan seleksi terhadap itik Manila (entog) dan itik Peking yang persilangan diantaranya menghasilkan itik Serati yang berbulu putih sebagai penghasil daging dan bulu halus (down feather). Di Perancis telah dikembangkan beberapa galur komersial dari itik Manila dan itik Peking pada tingkat GPS (Grand Parent Stock) dan PS (Parent Stock) untuk menghasilkan itik Serati sebagai penghasil daging dan hati (liver). Kriteria seleksi yang digunakan adalah terutama sifat-sifat produksi telur, kualitas karkas, dan sifat-sifat reproduksi.

Lebih jauh Hardi Prasetyo mengatakan, di Indonesia pemanfaatan teknologi pemuliaan juga telah dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul ternak itik, baik petelur maupun pedaging. Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sendiri telah melakukan seleksi 5 generasi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul hasil persilangan diantara kedua kelompok terseleksi tersebut. Hibrida tersebut, yang dinamakan Itik Master, mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) Rataan produksi telur setahun mencapai 71,5%, (ii) umur pertama bertelur 18 minggu, (iii) rataan puncak produksi telur mencapai 93,4%, (iv) konversi pakan 3,22, dan (v) anak itik jantan dan betina pada saat menetas dapat dibedakan dengan mudah dari warna bulunya.

“Hasil uji coba di tingkat peternak menunjukkan bahwa itik hibrida ini lebih unggul dari bibit induknya maupun silang balik kepada salah satu induknya, selama produksi telur 1 tahun,” terang Hardi Prasetyo yang juga aktif sebagai pengurus organisasi Masyarakat Ilmu  Perunggasan Indonesia (MIPI) ini.

Untuk itik pedaging, Balitnak telah merintis pengembangan galur bibit unggul baru yang berasal dari kombinasi antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Hasil persilangan tersebut mengalami proses seleksi selama beberapa generasi untuk memperoleh galur baru yang stabil, sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri, dan untuk sementara disebut itik PMp. Adanya bibit unggul pedaging baru ini diharapkan dapat menggantikan bibit itik Peking yang selama ini diimpor, dan juga menyesuaikan dengan selera konsumen lokal yang lebih menghendaki itik potong ukuran sedang.

Keunggulan bibit itik PMp ini adalah bulunya yang putih sehingga menghasilkan warna dan kualitas karkas yang tinggi, mencapai bobot potong dalam umur 8-10 minggu dengan konversi pakan sebesar 3,8. “Jika konsumen memerlukan ukuran karkas yang lebih besar maka itik PMp ini dapat disilangkan dengan entog jantan untuk menghasilkan itik serati dengan bobot potong mencapai 3 kg dalam 10-12 minggu,” kata Hardi Prasetyo.

Implikasi dari tersedianya bibit unggul

Pengembangan bibit unggul sebagai galur komesial mampu meningkatkan produktivitas ternak itik lokal, melalui penerapan teknologi pemuliaan yang tepat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan produksi telur per individu betina induk dari bibit unggul dapat mencapai 10-15% jika dibandingkan dari sebelumnya proses pemuliaan pada pemeliharaan intensif, namun jika dibandingkan dengan induk yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif peningkatan dapat mencapai 30-40%.

Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi per ekor induk baik dalam menghasilkan telur konsumsi, telur tetas maupun itik potong. Selanjutnya, untuk memperoleh manfaat tersebut perlu ada pengembangan sistem produksi yang benar dengan unit pembibitan yang terarah, dan dengan orientasi komersial dan skala usaha ekonomis.

“Hal inilah yang sampai saat ini masih sulit diwujudkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak itik hanya sebagai kegiatan sambilan atau musiman sebagai pengisi waktu kosong antar pertanaman padi atau tanaman pangan lain.” Ungkap Hardi prasetyo.


0 komentar

Chilled Semen



Semen cair dingin hasil proses pengawetan sperma dengan cara diencerkan dan diikuti dengan pendinginan sampai suhu 5°C.

Keuntungan menggunakan Chilled Semen
  1. Pembuatan lebih praktis, cepat dan ekonomis dibandingkan dengan proses pembekuan semen pada -196° C dengan N2 cair.
  2. Semen cukup disimpan pada lemari es atau tempat yang bersuhu 5°C sampai 1 minggu.
  3. Jumlah spermatozoa yang dibutuhkan per inseminasi lebih rendah sehingga produksi straw per ekor pejantan lebih tinggi.
  4. Mempermudah pelaksanaan inseminasi buatan di lapangan karena tidak diperlukan N2 cair, cukup disimpan di dalam thermos bersuhu 5° C.

0 komentar

Manajemen Pakan Sistem Penggemukan Sapi


Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi sistem penggemukan pada ternak sapi adalah teknik pemberian pakan/ ransum, luas lahan yang tersedia, umur dan kondisi sapi yang akan digemukkan, serta lama penggemukan. Usaha penggemukan sapi perlu akan upaya untuk meningkatkan bobot sapi sebelum dijual. Banyak dijumpai para peternak tradisional mencari sapi yang telah pubertas, tetapi tubuhnya masih kurus. Tubuh yang kurus tersebut bisa jadi karena pemberian pakan yang kurang tepat.

Di luar negeri, penggemukan sapi dikenal dengan sistem pasture fattening, dry lot fattening, dan kombinasi keduanya, sedangkan di Indonesia dikenal dengan sistem kereman atau sistem paron (Timor). Cara penggemukan sapi secara modern dilakukan dengan menggunakan prinsip feedlot, yaitu pemberian pakan sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat yang berkualitas di dalam kandang. 

0 komentar

Uniformity Telur Tetas Hasilkan DOC yang Seragam


Ketidak seragaman DOC yang diterima customer menjadi salah satu faktor penyebab complain, selain masih banyak faktor lain. Untuk itu seleksi ketat berdasarkan body waight harus dilakukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pemisahan besar kecil telur tetas untuk mendapatkan uniformity yang baik. 

Keseragaman Day Old Chick (DOC) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemeliharan perunggasan. Dengan DOC yang seragam diharapkan akan didapatkan hasil akhir ayam yang seragam pula. Untuk mendapatkan DOC yang berkualitas dan seragam, maka quality control DOC telah dilakukan di hatchery sebelum pengiriman ke customer. Selain itu juga telah dilakukan seleksi telur tetas berdasarkan ukuran (besar-kecil) disamping grade out sehingga didapatkan keseragaman telur tetas saat setting. 


Uniformity Telur Tetas
Ukuran telur tetas menjadi faktor utama yang mempengaruhi ukuran DOC. Bobot DOC biasanya berkisar 65-68% dari bobot telur tetas saat setting. Kadar air akan hilang 12-13% pada saat transfer dihari 18-19. DOC yang kecil dihasilkan dari telur tetas yang kecil begitu juga sebaliknya. Sehingga untuk mendapatkan DOC yang seragam dilakukan pengelompokan telur berdasarkan ukurannya. Namun demikian, selain ukuran telur, weight loss selama inkubasi, juga mempengaruhi variasi bobot ayam. 

BW DOC = 65 - 68% BW EGG

Selain ukuran telur, pemisahan telur berdasarkan umur induk juga perlu diperhatikan sebelum memasukkan telur tetas ke dalam mesin. 

Proses Penetasan
Pemisahan telur berdasarkan ukuran telur dan umur induk sangat penting diperhatikan karena ada perbedaan waktu yang diperlukan dalam inkubasi untuk mendapatkan hasil tetas yang seragam. DOC kecil dihasilkan dari flok muda yang ditetaskan lebih dahulu dari DOC yang besar yang berasal dari telur tua dan dari flok tua. Waktu yang dibutuhkan untuk inkubasi tergantung dari daya tetas telur sebelumnya dan dapat diperkirakan dengan menggunakan data penetasan sebelumnya. 

DOC Yang Seragam
DOC yang seragam akan didapat jika permisahan telur selama alur proses penetasan dijaga. Sehingga kualitas dan keseragaman DOC yang ke customer dapat dijaga. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan kerja keras dan ketelitian para karyawan hatchery (khususnya selector) karena nama baik dari kualitas produk perusahaan ada ditangan mereka. Sebagai finishing action, quality control harus dilakukan setiap panen untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu menghasilkan DOC yang berkualitas no.1 dan tidak ada complain customer. Dengan demikian akan dihasilkan kualitas DOC yang bagus dan seragam. 

Penulis : Dwi Lestari Ningrum, S.Pt (Ditjen PKH
0 komentar

Peternakan Rakyat Mendominasi Peternakan Nasional

Usaha peternakan nasional hingga saat ini masih didominasi usaha peternakan rakyat. Jumlahnya mencapai lebih dari 95% dari jumlah keseluruhan peternak di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/5). "Usaha peternakan rakyat jumlahnya mencapai lebih dari 95 persen dari jumlah keseluruhan peternak di Indonesia," kata Anton, di sela rapat paripurna dengan agenda pembicaraan tingkat II/Pengambilan Keputusan atas RUU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Anton memaparkan adanya UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan kebutuhan mendesak dalam memberikan perlindungan kepada peternak dan usaha peternakan rakyat. Selain itu, ia menilai UU No 6/1997 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan payung hukum dan acuan dalam melaksanakan pembangunan subsektor peternakan karena dijumpai berbagai kekurangan.

"UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah sangat mendesak segera diselesaikan karena di samping kemampuannya dalam memberikan perlindungan kepada ternak dari berbagai penyakit, pada saat yang sama juga memberikan perlindungan kepada peternak dan usaha peternakan rakyat," ujarnya.

Ditinjau dari berbagai sudut pandang, lanjutnya, sudah sewajarnya subsektor peternakan dan kesehatan hewan menjadi subsektor yang sangat strategis dalam mendukung kemajuan bangsa dan negara. UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mengamanatkan pembentukan dua UU yang bersifat lex spesialis, yaitu UU tentang Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Daya Genetik dan UU tentang Praktik Kedokteran Hewan dan Ketentuan Veteriner.

Sumber: Berita Peternakan
0 komentar

Dari Kami Untuk Peternakan Indonesia


      Mahasiswa peternakan di wilayah Jateng dan DIY yang tergabung dalam Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI ) mengadakan kegiatan Bakti Mahasiswa Peternakan Indonesia ( BAMBI ). Kegiatan kali ini dilaksanakan pada tanggal 4-6 Mei 2012 yang bertempat di Desa Karangmojo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Peserta Kegiatan ini adalah Mahasiswa Peternakan dari Akademi Peternakan Karanganyar ( selaku Tuan Rumah ) Universitas Jenderal Soedirman ( UNSOED ), Universitas Gajah Mada ( UGM ), Universitas Diponegoro ( UNDIP ), dan Universitas Negeri Sebelas Maret ( UNS ).
 Gambar 1. Tim BAMPI Wilayah III
       Kegiatan BAMPI merupakan salah satu program kerja ISMAPETI wilayah III yang kegiatannya meliputi Sarasehan bareng warga dengan Mahasiswa Peternakan yang membahas permasalahan peternakan dimasyarakat yang melibatkan 60 warga. Kegiatan yang lain adalah penyuluhan kesehatan dan pakan ternak Ruminansia yang disampaikan oleh Dosen APEKA Karanganyar. Kegiatan Pemberian Vitamin kepada ternak warga juga dilaksanakan. Untuk kegiatan ini mahasiswa Peserta kegiatan berkeliling kerumah warga untuk menyuntikkan vitamin.
 Gambar 2. Penyerahan Hadiah Lomba Mewarnai Tingkat Sekolah Dasar
        Untuk kegiatan anak usia dini juga dilaksanakan diantaranya adalah pengenalan hewan ternak dan Lomba mewarnai se-Kecamatan Tasikmadu dan dilanjutkan kampanye gizi bersama anak TK dan SD 1 dan 2 Karangmojo dengan agenda Kegiatan makan telur rebus bersama. Kegiatan BAMPI ditutup pada tanggal 6 Mei dan diakhiri dengan Field Trip ke Tawangmangu yang diikuti oleh semua Peserta Kegiatan.
Gambar 3. Sosialisasi Jamu Ternak





1 komentar

Harga Pakan Naik, Peternak Sidrap Demo DPRD



    Karena harga pakan ayam melambung tinggi, Forum Persatuan Peternak Sidrap (FPPS) se-Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidrap, Senin (23/10/2012).

Mereka mendeask pemerintah membantu menurunkan harga pakan ayam yang naik signifikan selama tiga bulan terakhir ini.

 "Tiga bulan terakhir, nasib peternak ayam petelur di Kabupaten Sidrap sungguh memprihatinkan. Hal ini diakibatkan karena tingginya biaya produksi, harga pakan ayam naik drastis dari Rp 250 ribu per sak naik menjadi Rp 320 ribu per sak," ungkap koordinator aksi Irvan, di depan kantor DPRD, Senin (23/10/2012).

Tingginya harga pakan ayam, berbanding terbalik dengan harga telur ayam menurun darastis dari Rp 23.000 per rak, menjadi Rp 20.000 per rak. "Dari tiga bulan terakhir, peternak di Kabupaten Sidrap ini mengalami kerugian sekitar Rp 8,5 miliar per bulan. Jika kondisi ini terus berlarut-larut, akan berdampak sosial, ekonomi dan memicu peningkatan inflasi," kata Irvan.

Dalam aksi itu, Petani FPPS juga menggelar aksi treatrikal penindasan terhadap pengusaha telur. Padahal peternak ayam petelur di Kabupaten Sidrap terbesar kedua setelah pertanian di Kabupaten Sidrap.

Usai berorasi, para peternak meminta anggota DPRD keluar. Namun mereka belum juga mendapatkan tanggapan dan penjelasan dari perwakilan DPRD. Mereka pun mengancam akan menduduki kantor DPRD.

Sumber: KOMPAS
0 komentar

Ciri- ciri Kambing Bunting

      Mengenali kambing yang bunting dari fisik pada awal kebuntingan tidaklah mudah. Langkah awal yang dapat dilakukan oleh peternak secara umum adalah memperhatikan siklus birahi (estrus / heating) dari kambing tersebut. Jika dalam 21 hari setelah dikawinkan, kambing betina tidak birahi lagi maka kemungkinan besar kambing tersebut bunting.

    Beberapa referensi di buku dan internet tidak pernah melakukan pembedaan ciri-ciri kebuntingan kambing betina yang masih dara dengan yang sudah beranak. Rata-rata referensi yang ada menganggap semua sama. Padahal kebuntingan kambing yang masih dara lebih sulit dikenali daripada kambing yang sudah pernah beranak. Pada artikel ini akan dibagi ciri kebuntingan kambing yang masih dara dengan yang sudah pernah beranak.

1. Mengenal Kebuntingan Kambing Dara

Secara fisik kambing yang baru bunting pertama kali (dara) lebih sulit dikenali kebuntingannya dibandingkan kambing yang sudah pernah beranak. Dalam 3 bulan pertama kambing dara yang bunting belum menampakkan perbedaan fisik yang nyata. Ukuran ambing kambing dara yang masih kecil membuat sulit untuk menentukan apakah kambing dara tersebut sedang bunting atau tidak.

Beberapa ciri kambing dara yang bunting:

  a. Kambing lebih tenang, jinak dan tidak gelisah
  b. Kulit menjadi agak kendor atau lemas
  c. Pusar diperut melebar
  d. Bulu menjadi rontok dan agak mengkilap
  e. Nafsu makan bertambah sehingga badan agak gemuk.

Setelah usia kebuntingan 3 bulan kambing dara yang bunting lebih mudah dikenali dari perubahan badannya. Perut kambing membesar seiring usia kebuntingan yang semakin tua.


2. Mengenal Kebuntingan Kambing yang Pernah Beranak

Kambing yang pernah beranak lebih mudah dikenali kebuntingannya daripada kambing dara. Pada umur kebuntingan dibawah 2 bulan (8 minggu), kambing yang sudah beranak sudah dapat dideteksi kebuntingannya.

Beberapa ciri kambing bunting:

  1. Ambing susu membesar. Jika diperah keluar cairan bening dan lengket di kulit. Pada umur kebuntingan yang lebih tua, cairan tersebut berubah warna menjadi kuning transparan.
  2. Pusar diperut melebar
  3. Nafsu makan bertambah. Bisa jadi kambing agak kurus pada saat kebuntingannya. Hal ini terjadi karena kambing tersebut masih dalam keadaan menyusui atau baru lepas menyusui anaknya (cempe).
  4. Perut membesar
1 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ISMAPETI WILAYAH III - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
ttp://kompiajaib.blogspot.com/ -->