Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Peternakan. Tampilkan semua postingan

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PEMULIAAN DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI ITIK LOKAL



Dalam budidaya ternak itik ada 3 kategori sistem pemeliharaan yaitu (i) sistem ekstensif, dimana ternak itik digembalakan dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari sumber pakan di sawah-sawah yang selesai dipanen, (ii) sistem semi-intensif, dimana ternak itik dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan itik mulai diberi pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, dan (iii) sistem intensif, dimana ternak itik dipelihara terkurung sepanjang periode produksi telur dan kebutuhan pakan disediakan oleh peternak seluruhnya.


Hal tersebut dikemukakan oleh L. Hardi Prasetyo seorang peneliti di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor dalam acara seminar nasional dan kongres I Indonesia Society of Animal Agriculture (ISAA) di Semarang. Dengan mengangkat tema “Pengembangan Aspek Zooteknis untuk Mendukung Sumberdaya dan Ternak Lokal” dengan diikuti oleh para akademisi, praktisi dan peneliti di bidang peternakan.

Hardi Prasetyo mengatakan, bahwa pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan dan menarik bagi peternak diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. “Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.,” ungkap Hardi Prasetyo.

Pengembangan bibit unggul

Hardi mencontohkan, seperti halnya pada berbagai komoditas ternak lain, itik juga sudah mengalami proses pemuliaan di beberapa negara. Bibit unggul itik petelur yang pasar utamanya di negara-negara Asia telah dihasilkan di Taiwan dan Vietnam melalui proses seleksi yang terarah. Itik petelur unggulBrown Tsaiya telah dihasilkan di Taiwan melalui proses seleksi selama 13 generasi dengan peningkatan produksi telur sampai umur 52 minggu dari 207 menjadi 229 butir dan umur pertama bertelur turun dari 126 hari menjadi hanya 108 hari tanpa mengurangi bobot telur. Seleksi terhadap sifat lain juga telah dilakukan di Taiwan untuk memperbaiki kekuatan kerabang telur, warna kerabang telur, fertilitas dan daya tetas telur.

Sedangkan di Vietnam, seleksi terhadap itik Co, yang diduga berasal dari Indonesia, dapat meningkatkan produksi telur selama 1 tahun sebesar14,5%. Untuk itik pedaging, di Taiwan telah dilakukan seleksi terhadap itik Manila (entog) dan itik Peking yang persilangan diantaranya menghasilkan itik Serati yang berbulu putih sebagai penghasil daging dan bulu halus (down feather). Di Perancis telah dikembangkan beberapa galur komersial dari itik Manila dan itik Peking pada tingkat GPS (Grand Parent Stock) dan PS (Parent Stock) untuk menghasilkan itik Serati sebagai penghasil daging dan hati (liver). Kriteria seleksi yang digunakan adalah terutama sifat-sifat produksi telur, kualitas karkas, dan sifat-sifat reproduksi.

Lebih jauh Hardi Prasetyo mengatakan, di Indonesia pemanfaatan teknologi pemuliaan juga telah dilakukan untuk menghasilkan bibit-bibit unggul ternak itik, baik petelur maupun pedaging. Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sendiri telah melakukan seleksi 5 generasi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul hasil persilangan diantara kedua kelompok terseleksi tersebut. Hibrida tersebut, yang dinamakan Itik Master, mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) Rataan produksi telur setahun mencapai 71,5%, (ii) umur pertama bertelur 18 minggu, (iii) rataan puncak produksi telur mencapai 93,4%, (iv) konversi pakan 3,22, dan (v) anak itik jantan dan betina pada saat menetas dapat dibedakan dengan mudah dari warna bulunya.

“Hasil uji coba di tingkat peternak menunjukkan bahwa itik hibrida ini lebih unggul dari bibit induknya maupun silang balik kepada salah satu induknya, selama produksi telur 1 tahun,” terang Hardi Prasetyo yang juga aktif sebagai pengurus organisasi Masyarakat Ilmu  Perunggasan Indonesia (MIPI) ini.

Untuk itik pedaging, Balitnak telah merintis pengembangan galur bibit unggul baru yang berasal dari kombinasi antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Hasil persilangan tersebut mengalami proses seleksi selama beberapa generasi untuk memperoleh galur baru yang stabil, sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri, dan untuk sementara disebut itik PMp. Adanya bibit unggul pedaging baru ini diharapkan dapat menggantikan bibit itik Peking yang selama ini diimpor, dan juga menyesuaikan dengan selera konsumen lokal yang lebih menghendaki itik potong ukuran sedang.

Keunggulan bibit itik PMp ini adalah bulunya yang putih sehingga menghasilkan warna dan kualitas karkas yang tinggi, mencapai bobot potong dalam umur 8-10 minggu dengan konversi pakan sebesar 3,8. “Jika konsumen memerlukan ukuran karkas yang lebih besar maka itik PMp ini dapat disilangkan dengan entog jantan untuk menghasilkan itik serati dengan bobot potong mencapai 3 kg dalam 10-12 minggu,” kata Hardi Prasetyo.

Implikasi dari tersedianya bibit unggul

Pengembangan bibit unggul sebagai galur komesial mampu meningkatkan produktivitas ternak itik lokal, melalui penerapan teknologi pemuliaan yang tepat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan produksi telur per individu betina induk dari bibit unggul dapat mencapai 10-15% jika dibandingkan dari sebelumnya proses pemuliaan pada pemeliharaan intensif, namun jika dibandingkan dengan induk yang dipelihara secara ekstensif atau semi-intensif peningkatan dapat mencapai 30-40%.

Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi per ekor induk baik dalam menghasilkan telur konsumsi, telur tetas maupun itik potong. Selanjutnya, untuk memperoleh manfaat tersebut perlu ada pengembangan sistem produksi yang benar dengan unit pembibitan yang terarah, dan dengan orientasi komersial dan skala usaha ekonomis.

“Hal inilah yang sampai saat ini masih sulit diwujudkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak itik hanya sebagai kegiatan sambilan atau musiman sebagai pengisi waktu kosong antar pertanaman padi atau tanaman pangan lain.” Ungkap Hardi prasetyo.


0 komentar

Chilled Semen



Semen cair dingin hasil proses pengawetan sperma dengan cara diencerkan dan diikuti dengan pendinginan sampai suhu 5°C.

Keuntungan menggunakan Chilled Semen
  1. Pembuatan lebih praktis, cepat dan ekonomis dibandingkan dengan proses pembekuan semen pada -196° C dengan N2 cair.
  2. Semen cukup disimpan pada lemari es atau tempat yang bersuhu 5°C sampai 1 minggu.
  3. Jumlah spermatozoa yang dibutuhkan per inseminasi lebih rendah sehingga produksi straw per ekor pejantan lebih tinggi.
  4. Mempermudah pelaksanaan inseminasi buatan di lapangan karena tidak diperlukan N2 cair, cukup disimpan di dalam thermos bersuhu 5° C.

0 komentar

Uniformity Telur Tetas Hasilkan DOC yang Seragam


Ketidak seragaman DOC yang diterima customer menjadi salah satu faktor penyebab complain, selain masih banyak faktor lain. Untuk itu seleksi ketat berdasarkan body waight harus dilakukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pemisahan besar kecil telur tetas untuk mendapatkan uniformity yang baik. 

Keseragaman Day Old Chick (DOC) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemeliharan perunggasan. Dengan DOC yang seragam diharapkan akan didapatkan hasil akhir ayam yang seragam pula. Untuk mendapatkan DOC yang berkualitas dan seragam, maka quality control DOC telah dilakukan di hatchery sebelum pengiriman ke customer. Selain itu juga telah dilakukan seleksi telur tetas berdasarkan ukuran (besar-kecil) disamping grade out sehingga didapatkan keseragaman telur tetas saat setting. 


Uniformity Telur Tetas
Ukuran telur tetas menjadi faktor utama yang mempengaruhi ukuran DOC. Bobot DOC biasanya berkisar 65-68% dari bobot telur tetas saat setting. Kadar air akan hilang 12-13% pada saat transfer dihari 18-19. DOC yang kecil dihasilkan dari telur tetas yang kecil begitu juga sebaliknya. Sehingga untuk mendapatkan DOC yang seragam dilakukan pengelompokan telur berdasarkan ukurannya. Namun demikian, selain ukuran telur, weight loss selama inkubasi, juga mempengaruhi variasi bobot ayam. 

BW DOC = 65 - 68% BW EGG

Selain ukuran telur, pemisahan telur berdasarkan umur induk juga perlu diperhatikan sebelum memasukkan telur tetas ke dalam mesin. 

Proses Penetasan
Pemisahan telur berdasarkan ukuran telur dan umur induk sangat penting diperhatikan karena ada perbedaan waktu yang diperlukan dalam inkubasi untuk mendapatkan hasil tetas yang seragam. DOC kecil dihasilkan dari flok muda yang ditetaskan lebih dahulu dari DOC yang besar yang berasal dari telur tua dan dari flok tua. Waktu yang dibutuhkan untuk inkubasi tergantung dari daya tetas telur sebelumnya dan dapat diperkirakan dengan menggunakan data penetasan sebelumnya. 

DOC Yang Seragam
DOC yang seragam akan didapat jika permisahan telur selama alur proses penetasan dijaga. Sehingga kualitas dan keseragaman DOC yang ke customer dapat dijaga. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan kerja keras dan ketelitian para karyawan hatchery (khususnya selector) karena nama baik dari kualitas produk perusahaan ada ditangan mereka. Sebagai finishing action, quality control harus dilakukan setiap panen untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu menghasilkan DOC yang berkualitas no.1 dan tidak ada complain customer. Dengan demikian akan dihasilkan kualitas DOC yang bagus dan seragam. 

Penulis : Dwi Lestari Ningrum, S.Pt (Ditjen PKH
0 komentar

Urea Molasses Block (UMB)


        Molasses merupakan bahan sisa dari industri gula yang banyak dijumpai di samping hasil utamanya. Dari berbagai bahan sisa yang dihasilkan industri gula, molasses merupakan bahan dasar yang berharga sekali untuk industri dengan fermentasi. Molasses adalah sejenis sirup yang merupakan sisa dari pengkristalan gula pasir. Molasses tidak dapat dikristalkan karena mengandung glukosa dan fruktosa yang sulit untuk dikristalkan. Molasses merupakan produk limbah dari industri gula di mana produk ini masih banyak mengandung gula dan asam-asam organik, sehingga merupakan bahan baku yang sangat baik untuk pembuatan etanol. Bahan ini merupakan produk sampingan yang dihasilkan selama proses pemutihan gula. Kandungan gula dari molasses terutama sukrosa berkisar 40-55%.

        Sifat fisika molasses yakni berwujud cairan berwarna hitam, memiliki sifat Brix 90,92 %, Pol 29,89 %, HK 32,88 %, dan TSAI 55,32 %. Sedangkan komposisi utamanya yakni sukrosa 38,94 %, glukosa 14,43 %, fruktosa 16,75 %, abu 11,06 %, dan air 18,82 %. Sifat kimia molasses mengandung banyak karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku proses fermentasi alkohol maupun fermentasi lain

       Bahan utama untuk membuat UMB adalah molasses sebagai sumber energi. Molases merupakan bahan pakan sumber energi karena banyak mengandung pati dan gula. Kecernaanya tinggi dan bersifat palatable. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar airnya 78-86%, gula 77%, abu 10,5%, protein kasar 3,5%, dan TDN 72%

Cara Pembuatan UMB
     Dalam pembuatan UMMB bahan-bahan yang digunakan adalah: molase, onggok, dedak, tepung daun singkong kering, tepung tulang, kapur, urea, lakta mineral dan garam dapur ( disesuaikan dengan formula yang diinginkan). Untuk pembuatan UMMB dapat dipilih salah satu formula tersebut di atas.Proses pembuatannya adalah seluruh bahan pada formula yang dibuat dicampur kecuali molase. Setelah bahan-bahan dicampur secara merata, kemudian molase ditambahkan kedalam campuran dan diaduk-aduk hingga tidak ada gumpalan-gumpalan, kemudian adonan dipanaskan/ digoreng dengan api kecil selama kira-kira 3 (menit) atau 4 ( menit). Selanjutnya adonan UMMB yang masih panas tersebut dipres dalam wadah-wadah atau cetakan. UMMB telah siap untuk diberikan kepada hewan atau disimpan di tempat yang tidak lembab.

Cara Pemberian UMB
       UMB diberikan pada pagi hari sebelum hewan diberi pakan pokok.


Manfaat UMB
        Hasil kajian dampak sosial ekonomi dari pengamatan lapangan terhadap penerapan
hasil litbang melalui Iptekda, menunjukkan:
· Perbaikan pendapatan peternak
· Menumbuhkan swadaya masyarakat dalam usaha peternakan (pengadaan pakan
  pokok dan pakan suplemen )
· Meningkatkan kemampuan inovasi peternak dalam mengembangkan peralatan
  pembuatan pakan suplemen
· Mendorong berkembangnya kegiatan usaha baru dalam memproduksi UMMB.

0 komentar

Rumah Potong Bebek (RPB) Ala Kelompok Peternak


Dengan memiliki rumah potong bebek, kelompok peternak bebek dapatkan untung lebih besar, usaha jadi lebih efisien, waktu pemotongan lebih cepat, dan karkas lebih higienis

Tak puas hanya menetaskan telur dan budidaya pembesaran bebek (jenis kampung), Kelompok Tani Ternak Itik Bahana Putra Mandiri sejak 2007 merambah usaha rumah potong bebek (RPB). Bisnis hilir ini menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Dindin Haerudin ketua kelompok tersebut memberi perbandingan, kalau bebek hidup hanya dihargai Rp 21.000 tiap kg hidupnya, maka penjualan dalam wujud karkas jauh lebih menarik. ”Berkisar Rp 25.000 – Rp 45.000 per karkas dengan bobot kisaran 0,8 – 1,2 kg tiap karkasnya,” sebut Dindin.

Di awal pendiriannya, RPB kelompok ini hanya memotong 20 ekor bebek dan tidak tiap hari memotong. Proses pemotongannya pun masih manual kala itu. Namun terhitung Maret 2010, RPB ini pindah ke lokasi baru di atas lahan seluas 645 m2 yang tercatat masuk Kampung Cinangsi, Kabupaten Tasikmalaya. Berada tak jauh dari pinggir jalan raya dan dilengkapi peralatan semi-otomatis, kini RPB beraset Rp 700 juta ini per hari mampu memotong sekitar 300 – 400 ekor bebek atau mencapai 12.000 ekor per bulan. Sedangkan kapasitas terpasangnya adalah sebesar 1.000 ekor per hari.

Dindin mengungkapkan, keputusan kelompoknya mendirikan RPB bukan sekadar coba-coba, tapi karena ada peluang cukup besar untuk memasok karkas bebek ke rumah-rumah makan di seputar Tasikmalaya. ”Jadi pendirian RPB kami rencanakan dengan matang. Kami yakin prospeknya bakal bagus,” ujarnya penuh nada optimis.

Alasan lain didirikannya RPB itu karena Dindin dan anggotanya ”bosan” terus-menerus ditekan bandar bebek. ”Dengan RPB, mata rantai tata niaga yang panjang dapat diputus. Sehingga harga jual dan keuntungan yang diperoleh lebih tinggi. Apalagi saat ini rumah makan yang menyediakan menu olahan bebek semakin menjamur, permintaan terus meningkat,” ia bersemangat.

Dindin menilai, RPB memberikan banyak keuntungan bagi usaha kelompoknya. Ia menyebut, waktu pemotongan akan lebih cepat dan efisien. Selain itu karkas jadi lebih higienis karena pemotongnya telah disertifikasi dan mendapat surat izin memotong. ”Tak kalah pentingnya, keberadaan RPB di kelompok kami seolah menjadi subsidi bagi anggota sehingga pendapatan jadi lebih besar,” katanya.

Berbeda dengan kelompok yang dipimpin Dindin, Kelompok Tani Ternak Itik Igan Mekar di Desa Karanganyar, Kabupaten Cirebon, sebagaimana dikatakan ketua kelompoknya, Abdul Wahid, belum memiliki RPB. ”Dari segi kemampuan teknis kami sudah siap. Tinggal modalnya saja. Bila ada yang mau berinvestasi, kami siap jalan,” ujar Wahid.  

Sejauh ini, kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi Bebek di Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) ini, kelompoknya menjual bebek hidup. Namun bila ada permintaan dalam bentuk karkas, anggotanya yang berjumlah 30 orang akan memotong di rumahnya masing-masing secara tradisional.

Dengan permintaan dari Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Bandung sebanyak 500 – 700 ekor bebek hidup (1,3 kg per ekor, dengan harga lepas kandang Rp 30.000 per ekor) per minggu, Wahid menilai kelompoknya sudah waktunya memiliki RPB. Sebab Wahid mengamati bahwa tren permintaan bebek dalam bentuk karkas terus meningkat. ”Pasar sebenarnya sudah menuntut dalam bentuk karkas,” katanya. Bila menjual bentuk karkas, Wahid membandingkan, per ekor dengan berat 0,9 kg dihargai Rp 35.000, bahkan bisa lebih.   

Investasi dan Prospek
Dindin punya kalkulasi, besaran investasi RPB untuk kapasitas potong 1.000 ekor per hari sekitar Rp 500 juta. ”Itu untuk RPB bila alat-alat yang menggunakan listrik hanya tempat pencelup berisi air panas dan freezer (alat pembeku), selebihnya manual,” katanya.

Sementara Wahid yang pernah meninjau RPB milik rekannya di Surabaya mengatakan, investasi RPB mulai dari awal pembangunan hingga beroperasi, dengan kapasitas potong per hari sebanyak 1.000 ekor, mesin serba otomatis, dan tenaga kerja 12 orang membutuhkan sekitar Rp 2,5 miliar. ”Itu belum termasuk lahan,” tambahnya.

Dengan melihat tren permintaan daging bebek yang terus meningkat dan harga jual yang cenderung stabil, Wahid yakin angka investasi yang ia sebutkan akan kembali dalam waktu sekitar 3 tahun.
Dindin yakin sepenuhnya, dengan memiliki RPB usaha bebeknya akan semakin efisien dan menjanjikan. Syaratnya, sambung dia, RPB dikelola dengan manajemen yang baik dan solid, serta menjaga hubungan baik dan saling percaya dengan pembeli. ”Yang juga penting, suplai bebek hidup untuk dipotong harus kontinu,” tandasnya.

Sumber : Majalah Trobos, 01 Oktober 2012 (Klik disini)
14 komentar

Peneliti dari University of Georgia Kembangkan Sistem Penerjemah Bahasa Hewan Ternak


Para peneliti dari Georgia Institute of Technology dan the University of Georgia mengembangkan sebuah sistem penerjamah yang mereka klaim bisa menterjemahkan bahasa hewan ternak, terutama ayam ternak.

Para peneliti tersebut meneliti setiap suara ayam dalam setiap situasi yang berbeda dan dimasukkannya ke dalam database untuk kemudian dianalisa. Hasil dari analisa tersebut nantinya akan disampaikan kepada para pemilik peternakan berupa saran atas apa saja yang “diinginkan” oleh ayam ternaknya.

Sistim penterjemah ini nantinya dihubungkan ke sebuah sistim lainnya sehingga sistim ini bisa berinteraksi dengan sistim utama. Jika sistem mendeteksi adanya “permintaan” dari ayam-ayam untuk menurunkan suhu, maka sistem akan secara otomatis menyalakan mesin pendingin.

Tujuan utama dari diadakannya sistem penerjemah bahasa binatang ternak ini tentu saja agar ayam-ayam jadi lebih sehat dan pertumbuhannya jadi lebih cepat.

sumber: Berita Teknologi

0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ISMAPETI WILAYAH III - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
ttp://kompiajaib.blogspot.com/ -->