Swasembada Daging 2014, Akankah Terealisasi?



      Bogor (29/9) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, telah menyelenggarakan Seminar Nasional yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Fapet Golden Week (FGW) 2012. Program percepatan Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) 2014 yang dicanangkan pemerintah kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 tentu sudah banyak dikenal para pelaku dan akademisi peternakan. Oleh karena itu, BEM Fapet IPB mengangkat tema “Swasembada daging 2014, akankah terealisasi?” sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap pelaksanaan program tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung Graha Widya Wisuda (GWW) ini dihadiri oleh Dr. Ir. M. Yamin, M.Agr. Sc (Wakil Dekan Fapet IPB), Dr. Ir. Abu Bakar, MM(Direktur Perbibitan Ternak)Robi Agustiar(Sekretaris 2 DPD PPSKI Jawa Barat), Dr. Ir. Arif Daryanto, M.Ec (Direktur Manajemen Bisnis IPB), dan Karnadi Winaga (Operasional Direktur PT Karya Anugerah Rumpin). Seminar yang di moderatori oleh Prof. Muladno ini begitu hidup dan menarik dengan berbagai keberhasilan dan kekurangan dari pelaksanaan program PSDSK 2014 yang disampaikan oleh para narasumber.

       Usaid Gharizah, Ketua BEM Fapet IPB melaporkan kegiatan ini dilaksanakan untuk menggali informasi, menganalisis dan evaluasi dari masing-masing narasumber yang berbeda background dengan menghadirkan akademisi, praktisi/pebisnis, pemerintah dan perhimpunan atau komunitas. Lengkap sudah ABG dan C atau Academision, Bussinesman, Government dan Community beradu pendapat untuk keberhasilan program PSDSK 2014. “Tema yang diangkat dalam seminar ini, bukanlah pernyataan pesimistis dari mahasiswa terhadap program PSDSK 2014, namun tema ini mari kita jadikan dorongan untuk mencapai PSDSK 2014. Sehingga dengan adanya seminar ini diharapkan memberikan pengetahuan dan informasi bagi mahasiswa dan masukan-masukan untuk para pelaku dan pemangku kebijakan”, Dr. Yamin sampaikan dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi seminar.

     Ir. Abu Bakar, SE,. MM. sebagai narasumber mewakili pemerintah menyampaikan bahwa program PSDSK 2014 adalah salah satu program dari Kementrian Pertanian yang ditanggungjawabkan kepada Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sebelum menyampaikan lebih jauh seputar program PSDSK 2014, ia terlebih dahulu sampaikan pengertian Swasembada daging, yaitu terpenuhinyakebutuhanpenyediaandagingsapi/kerbau yang berasaldariproduksilokal (dalamnegeri) sebesar 90% dan 10%sisanyadipenuhidariimpor.  Hasil sensus ternak 2011 menyebutkan bahwa populasi sapi potong adalah 14,8 juta ekor dan kerbau 1,3 juta ekor yang dipelihara oleh 5,6 juta rumah tangga peternak. Populasi ini terkonsentrasi sebagian besar di pulau Jawa dan Jawa timur memiliki 31,8% populasi sapi potong Indonesia. Dari data sensus tersebut, telah memenuhi populasi target swasembada yaitu 14,2 juta ekor. Meskipun sudah mencapai target populasi, tetap program ini harus dilanjutkan sampai kita bisa benar-benar mandiri dalam penyediaan pangan khususnya daging.

“Pemerintah sudah menyiapkan 5 kegiatan pokokdalam mendukung pencapaian program Ditjennakkeswan, yaitu penyediaan bakalan/daging sapi/kerbau lokal, peningkatan produktivitas ternak sapi lokal, pengendalian sapi/kerbau betina produktif, penyediaan bibit sapi/kerbau dan pengaturan stock daging sapi/kerbau di dalam negeri”, Abu Bakar sampaikan dengan rinci. Terhadap penanganan rumah potong hewan, Ia sadari belum mencapai maksimal, terutama penanganan pemotongan betina produktif dan bunting di RPH. Pemerintah sudah menyediakan dana kompensasi untuk peternak yang diketahui akan memotong sapi betina produktif dan sapi bunting diatas 5 bulan sebesar 500 sampai 800 ribu. Dana ini diberikan supaya peternak mau merawat sapi sampai anak sapi lahir, sehingga populasi ternak bertambah. Upaya trobosan yang dilakukan pemerintah adalah dengan meredistribusi aset ternak dari daerah yang padat ternak ke daerah yang mempunyai crayying capacity yang tinggi. Abu Bakar berharap dukungan dari lintas sektor diantaranya Kementrian BUMN, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Keuangan, Kementrian Pekerjaan Umum, BPN dan Kementrian Riset dan Teknologi untuk mendukung perkembangan perindustrian peternakan.

     Arif Daryanto sebagai seorang akademisi memberikan pandangan terhadap peluang keberhasilan Program PSDSK 2014. Terlebih dahulu ia membawakan pesan Campbell dan Lasley mengatakan “negara yang kaya ternak, tidak pernah miskin. Negara yang miskin ternak, tidak pernah kaya.” Kemudian Arif melanjutkan, “untuk menganalisis swasembada daging sapi harus kembali pada konsep ekonomi dasar yaitu permintaan dan penawaran serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang mempengaruhi permintaan diantaranya jumlah ternak, tingkat urbanisasi, revolusi peternakan, pertumbuhan pendapatan, kualitas produk (segmentasi pasar), relative cost price advantages dan supermarket revolution. Sedangkan yang mempengaruhi penawaran adalah perkembangan teknologi, perkembangan genetika, genetic base yang terkonsentrasi, harga biji-bijian dan distribusi penggunaannya, dan kategori konsumsi pakan.” Peningkatan pendapatan masyarakat dan meningkatnya tingkat kepuasan konsumen ini akan memberikan dampak positif untuk dunia peternakan. Produk peternakan merupakan komoditas pangan bernilai tinggi dibandingkan produk pangan lain. Orang akan mulai mencari kepuasan dan meningkatkan taraf hidupnya ketika pendapatan sudah meningkat. Arif menyebutkan saat ini Indonesia sudah menempati produsen telur ke-8 terbesar dan penghasil daging ayam terbesar ke 7 di dunia. 

    Menurut Karnadi Winaga sebagai pelaku peternakan sapi menanggapi Program PSDSK 2014, menyampikan keprihatinnanya terhadap belum siapnya para peternak menerapkan pola peternakan secara intensif maupun ekstensif. Ketidaksiapan ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan modal untuk memanajemen peternakan sapi. Pengusaha yang sekarang sudah memiliki populasi sapi lebih dari 3000 ekor ini menuturkan modal yang terbatas dan infrastruktur yang masih seadanya. PT KAR yang dipimpin Karnadi mulai dari tahun 2005 sudah memulai usaha breeding dengan fokus menyelamatkan ras sapi sumba ongole dengan memperbaiki sifat genetiknya. Sudah saatnya para pelaku peternakan bekerjasama dengan para ilmuan di dinas-dinas terkait, untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan mengurangi resiko kerugian. Sekarang Kasnadi bekerja sama dengan Balai Embrio Ternak Cipelang dalam program embrio transfer dan pemurnian ras sapi ongole.

       Robi Agustiar memaparkan kondisi peternakan sapi saat ini yang masih carut marut dan jauh dari skala menguntungkan. “Permintaan daging sapi yang tinggi tidak mampu di cukupi oleh produksinya. Diperparah peternakan sapi di Indonesia diusahakan oleh sebagian besar peternak rakyat skala kecil, bibit yang tidak berkualitas dan pakan yang sangat mahal. Akibatnya crossing Simmental dan limousine banyak dilakukan dimasyarakat untuk mendapatkan kualitas ternak yang baik,” Robi ungkap dengan jelas. Masalah lain yang diungkapkan oleh lulusan Fapet UNPAD ini adalah peta logistik yang belum tertata rapi dan belum adanya MODA transportasi yang memadai untuk distribusi ternak antar pulau. Akibatnya usaha beternak sapi sangat tidak efisien jika tidak dibenahi dengan benar. Beliau mencontohkan transportasi ternak di pelabuhan Madura yang mengangkut 146 sapi dan 267 kambing akhirnya tenggelam. Kemudian dicontohkan pula di Samarinda yang belum ada dermaga sehingga sapi harus berenang turun dari kapal menuju pantai. Untuk mencapai PSDSK 2014 beliau menyampaikan harapannya, yaitu pemerintah fokus pada masalah swasembada bukan pada importasi, program pembibitan harus segera dibenahi dan menjadi tanggung jawab pemerintah, harmonisasi kebijakan antar kementrian, law enforcement harus ditegakan, dan terakhir harapan beliau adalah revitalisasi infrastruktur logistik sapi potong. 

      Seminar ini menampilkan berbagai masalah yang terjadi pada pelaksanaan Program PSDSK 2014. Semua kekuarangan dalam pelaksanaan PSDSK 2014 sudah harus dibenahi sehingga program ini tercapai dengan baik dan bermanfaat untuk semua pihak yang berkepentingan di usaha peternakan sapi dan kerbau. Untuk mahasiswa, sudah saatnya mulai mencermati dan memberikan solusi serta segudang ide-ide segar untuk keberhasilan program ini. Swasembada daging 2014, akankah terealisasi? Kita semua harus optimis, dengan karya nyata!


Penulis : Heru Nugraha (IPB)

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ISMAPETI WILAYAH III - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
ttp://kompiajaib.blogspot.com/ -->